It is Possible–Misyavad va Mitavonim

Bahagianya jadi mahasiswa :)

Are We a part of Green Consumerism?

April25

Sejak beberapa tahun terakhir, kita sering menemui barang-barang di pasaran yang mencantumkan label-label terkait pelestarian lingkungan pada produknya. Seperti eco-friendly, non-CFC pada produk lemari es dan juga spray, no-animal testing pada produk obat-obatan dan kecantikan, recycleable pada produk botol plastik, kertas, dan berbagai kemasan lainnya. Munculnya berbagai label pelestarian lingkungan tersebut secara umum merupakan respon produsen terhadap tingginya permintaan dan kepedulian konsumen terhadap permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh proses produksi yang tidak ramah lingkungan, meskipun ada juga produsen yang memang sudah concern mengenai hal itu.

 

Fenomena tesebut di atas merupakan gambaran yang timbul dari kehadiran green consumerism atau dapat kita sebut sebagai konsumerisme hijau. Konsumerisme tidaklah sama dengan konsumtivisme, meskipun keduanya seringkali dianggap sama. Konsumtivisme adalah pola hidup (kebiasaan) boros atau berlebihan dalam mengonsumsi suatu produk. Sedangkan konsumerisme bersifat sebaliknya. Konsumerisme menurut ensiklopedia Britanica adalah gerakan atau kebijakan yang diarahkan untuk mengupayakan penyesuaian metode produksi dan promosi sehingga dapat melindungi hak konsumen.  Orang yang melakukan tindakan konsumerisme disebut dengan konsumeris. Selanjutnya tentu dapat kita kaitkan kata “hijau” dengan konsumerisme.

Konsumerisme hijau mengarah pada pergerakan konsumen untuk melakukan tindakan konsumsi yang mendukung pelestarian lingkungan (sustainable environment).  Adanya konsumerisme hijau ini menuntut produsen untuk lebih memperhatikan lingkungan, juga menyadarkan konsumen untuk berpartisipasi secara aktif melalui tindakan konsumsi yang ramah lingkungan, contohnya melalui upaya mengurangi penggunaan produk plastik (reduce), penggunaan kembali barang yang dapat dipakai ulang (reuse) dan pendaur-ulangan barang-barang untuk mengurangi volume sampah (recycle).

Sebuah survei (oleh SC Johnson) pada awal dekade 90-an di Amerika Serikat menunjukkan seberapa besar persentase (pada contoh) dari jenis-jenis konsumen di Negeri Paman Sam itu sebagai berikut:

  1. Konsumeris hijau atau disebut dengan true- blue green yang aktif dan konsisten melestarikan lingkungan terdiri atas aktivis, professional, dan tokoh masyarakat  dengan jumlah sebanyak 20%;
  2. Greenback greens adalah orang yang bersedia untuk membayar lebih banyak dari yang seharusnya untuk produk-produk yang bersifat ramah lingkungan. Presentase golongan ini berjumlah sekitar 5%, terdiri atas orang-orang non-aktivis yang sedang dalam kenaikan karir;
  3. Sprouts yaitu orang-orang yang terkadang peduli dengan lingkungan tetapi masih bingung untuk memilih antara kesejahteraan ekonomi vs pelestarian lingkungan. Jumlah sprouts cukup banyak, sekitar 31%;
  4. Grausers merupakan golongan orang yang menyalahkan pihak lain atas terjadinya kerusakan lingkungan dan tidak berniat untuk berpartisipasi dalam konsumsi hijau. Jumlah grausers ini sekitar 9% dari contoh;
  5. Basic Brown terdiri atas orang-orang dengan perekonomian rendah, belum mampu memenuhi kebutuhan dasarnya dan tidak memiliki pendapat bahwa konsumen dapat melestarikan lingkungan. Jumlah golongan ini sekitar cukup besar 35% dari contoh.

Penelitian terbaru dari SC Johnson mengenai green consumerism ini menunjukkan hasil yang lebih baik. Pada tahun 2011 tujuh dari sepuluh orang Amerika menyatakan dirinya cukup banyak tahu mengenai permasalahan lingkungan. Di samping itu mereka menyatakan bahwa mereka yakin dapat melakukan langkah kecil untuk memperbaiki lingkungan. Hal tersebut lebih baik dibandingkan tahun 1990 ketika hanya ada lima dari sepuluh orang mengaku tahu tentang permasalahan lingkungan.

Penulis sendiri berpendapat bahwa pelestarian lingkungan melalui green consumerism akan mampu mengurangi banyak permasalahan lingkungan yang merisaukan. Meskipun masih banyak pihak yang apatis terhadap efektivitas pelestarian lingkungan ini, jika upaya pelestarian lingkungan tersebut dilakukan secara konsisten, berkelanjutan, dan kolektif, lingkungan yang lestari pun dapat diwujudkan. Jadi, kita kah konsumeris hijau?

I’m Proud to be Here

November11

“I’m Proud to Be a Family and Consumer Scientist”
(a note of scientist wannabe : Afina Mutmainnah)

Since I learned in a study programme about family and consumer (famous to be called Family and Consumer Science), I have more sense and (at least) pay attention to families in my neighborhood, child development, and even to the label of a product also its advertisement 😀

“ Dasar kamu anak nakal… menyebalkan!”
Wow. Akhir- akhir ini saya sering sekali mendengar ibu-ibu mengeluarkan kata-kata bernada demikian untuk anak-anaknya yang “mengganggu” pekerjaannya. entah itu di depan mata saya, atau di dalam “kotak kaca” yang menayangkan kelakuan orangtua yang anomali.
Believe it or not, ibu-ibu dan bapak-bapak tersebut sepengelihatan saya lebih suka untuk main gadget daripada main bareng anak-anaknya yang sedang dalam masa keemasan, or famously called “golden age”.

Dulu, sebelum saya melabeli diri saya dengan “Anak IKK”, rasanya saya tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti tertulis di atas, bahkan saya juga belum pernah mengenal istilah Ilmu Keluarga dan Konsumen sebelumnya.

Long time ago, I desired to be a Psychologist. Saya selalu suka berhubungan dengan hal-hal yang “berbau manusia”. Sampai suatu saat di akhir tahun 2009, IPB mengirimi sekolah saya surat USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB). Saat itu saya termasuk salah seorang yang di-list oleh sekolah untuk mengambil seleksi ini. Wow, I even not interested in agriculture. Tapi akhirnya saya rajin sekali membolak-balik brosur dan booklet yang IPB kirimkan. Hingga saya menemukan di beberapa lembar terakhir, fakultas yang nampak menyenangkan untuk tempat belajar berikut nama departemen yang terlihat berkilau di mata saya 
Ilmu Keluarga dan Konsumen Family and Consumer Science.

Yep, passion saya di bidang humaniora ini cocok dengan tagline IKK “Building Human Capital, Making for The Better Lives”
Ilmu-ilmu di dalam program studi ini erat kaitannya dengan dunia anak (which is really interesting), keluarga, dan kehidupan konsumen.
Dan akhirnya, saya menuliskan nama departemen ini sebagai pilihan pertama saya dalam formulir. Ketika mengisi formulir ini (yang jumlahnya berlembar-lembar) saya sangat berharap akan lulus dan dicantumkan sebagai mahasiswi departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Dan ternyata terkabul  Yes!

Waktu masuk tingkat 1 a.k.a TPB, rasanya saya tidak sabar ingin langsung belajar hal-hal baru dari departemen tempat saya belajar. I’m pretty sure it will be fun.
Masuk tingkat dua, memang iya ternyata. It will always be fun.
Saya seperti menghadapi dunia yang nyata, ilmu-ilmu ini memang nyata. Keluarga adalah tempat kita dibesarkan sebagai manusia, anak adalah masa lalu kita dan juga “masa depan” dalam hidup kita, dan konsumen adalah “profesi” yang tidak pernah bisa kita lepaskan sepanjang hidup kita.
Masuk tingkat tiga, kehidupan manusia semakin terasa rumit (bukan hanya tugas kuliah yang makin rumit haha), but it’s for real.
Menjadi manusia yang berkualitas (bukan hanya bisa bertahan hidup tapi mampu bermanfaat untuk banyak mahluk lainnya) itu bukan sulit, tapi kalau saya boleh meminjam istilahnya Mr. Ahmadinejad, Misyavad va Mitavonim (hal ini mungkin dan dapat dilakukan). Perubahan untuk menjadikan kita sebagai manusia berkualitas ini harus dilakukan sejak kita belum berkeluarga. Kita harus menjadi manusia yang siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan kemajuan atau hal lain yang terburuk dalam hidup. Hingga ketika waktu dewasa tiba, kita sudah siap, matang, dan mampu menelurkan manusia penerus yang juga siap melanjutkan apa yang sudah kita mulai.

Long time ago, some people asked me, “emang ada ya jurusan yang belajar tentang keluarga, buat apaan sih, emang penting?”
I used to answer with this  “ada, ya makanya ada jurusannya juga berarti ilmu ini tuh penting untuk dipelajari”

But for now and forever, when some people ask me the same question, I will answer with this “Yeah, it will always be an important science because life is too precious to be ignored”.

–HIDUP TERLALU BERHARGA UNTUK KITA ABAIKAN–

posted under Academic | No Comments »

praktikum kesatu penkom

March2

linking something

let’s join us @cyber singkong every friday 2pm till drop..hahahha

nilai daskom kelas tanggut

October18

nilai Daskom Paralel 10(1)

 

teman2..ini link nilai daskom di kelas tanggut yaa… konfirmasi nilai ke kak vita sebelum tanggal 20 oktober..jarkom juga ke teman2 lain..ikk, sc, dan minor. protes nilai terbuka selama itu benar dan bila ternyata salaH, akan dipotong  20%.

posted under Academic | No Comments »

chapter 4 : information processing and consumer perception

October8

questions and answers after the morning session..

CONSUMER BEHAVIOR

1. apa yang mempengaruhi pemahaman konsumen terhadap stimulus?

jawab : nilai, harapan, dan kebutuhan.

2. bagaimanakah proses pengolahan informasi berlangsung?

jawab : stimulus yang datang ditanggapi oleh konsumen dalam 5 tahap, yaitu : pemaparan, perhatian,pemahaman, penerimaan, dan retensi.

3. mengapa iklan harus dibuat semenarik mungkin?

jawab : hal ini berkaitan dengan adanya selective exposure. manusia tidak bisa memperhatikan semua stimulus yang datang padanya, hanya stimulus yang menonjol lah yang dipilih untuk diperhatikan.

4. proses apa saja yang terjadi dalam penyimpanan informasi jangka panjang?

jawab : rehearsal dan encoding

5. iklan banyak menggunakan jingles untuk mencirikan produknya. apakah tujuannya?

jawab : hal itu bertujuan agar mempermudah proses retrieval atau mengingat kembali yang dilakukan oleh konsumen. biasanya, konsumen lebih mudah mengingat lagu daripada hanya kata tak bernada, oleh karena itu banyak sekali produk yang menggunakan lagu/ jingle khasnya.

posted under Academic | No Comments »

chapter 3 : personality

October8

Tuesday Morning Assignment

Course           : Consumer Behavior

Department : Family and Consumer Sciences

College of Human Ecology- Bogor Agricultural University

tugas kelompok

Lima Karakter Positif:

  • Penyayang
  • Disiplin
  • Ramah
  • Pemaaf
  • Rajin

 

Lima Karakter Negatif:

  • Pelupa
  • Ceroboh
  • Cerewet
  • Ragu/Bimbang/Galau
  • Egois

 

Gaya Hidup di Masyarakat:

  • Rekreasi
    • Wisata rekreasi baru: Trans Studio
    • Pusat perbelanjaan: Mall
    • Konsumtif
      • Mode pakaian: style budaya barat, baju kafthan ala artis Syahrini
      • Pulsa
      • Olahraga :Sepak Bola
      • Kesenian
        • Musik:  Boy band
        • Teknologi
        • Handphone: Black Berry, Android
            • I-pad
            • I-phone
            • Informasi
        • Jejaring sosial: Facebook, Twittter
        • Film: Nonton di Bioskop

 

Tren di Masyarakat:

  • Logat bahasa
    • Ala artis Syahrini “Alhamdulillah yaah” “Sesuatu Banget”
    • Ala ustad Maulana “Jamaah.. oooiii… Jamaah.. Alhamdulillah..”
    • Bersepeda
    • Motor Matic: Scoopy
    • Kerudung Artis: Ala Marshanda
    • Tren acara TV
      • Sporttainment
      • Music
      • Infotainment

 

posted under Academic | No Comments »

consumer behavior chap 2

October8

”motivation and values”

according to the ‘needs hierarchy’- Maslow

that human always try to fulfill the 5 categories of needs.

the 1st need is : phisiology. such as eat, drink, and sex. those also called basic needs.

the 2nd is : safety

the 3rd  is: social needs. such as love and care.

the 4th : ego needs. self esteem, status,etc. are involved.

the 5th:  the highest needs,  self actualization.

okay i’ll give you the example.

these are the jargons of imaginary jeans product that targetting the consumer based on the needs hierarchy.

the product’s called OBLONG jeans.

the 1st :  Oblong, nyaman setiap saat. [ Oblong, comfort in everytime]

the 2nd : anda dan dia ( gambar dompet) aman terlindungi [ u and it are protected]

the 3rd : oblong menemani anda dan sahabat kemana pun.. [ accompany u and friends wherever u want..]

the 4th : it’s following ur esteem..

5th:  Oblong jeans, teman suksesmu!

 

poin-poin di bawah ini menjelaskan contoh tentang keterlibatan konsumen dalam pembelian produk dan nilai yang dianut oleh konsumen.

  • Product involvement
  1. Inertia involvement   : makanan (pokok), alat tulis, pulsa
  2. Passion involvement : pakaian, buku, film (bioskop), lensa kontak, ponsel.

 

  • Purchase situation involvement
  1. Kiriman lebaran            : – kue dalam bentuk parsel cantik untuk dosen ,

–  kue dalam toples biasa untuk teman satu kost.

2.     komunikasi harian        : – telepon untuk menghubungi orang tua,

– sms ( pesan teks) untuk menghubungi rekan sejawat.

 

  • Consumer  values
  1. Penampilan menarik
  2. Terlihat sehat dan segar
  3. Warna kulit cerah

 

  • Core values
  1. Kesopanan
  2. Toleransi
  3. Gotong-royong

 

 

 

 

posted under Academic | No Comments »

the courses :D

August22

Consumer Behavior Class : Tuesday Morning

Department of Family and Consumer Sciences- College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

Lecturer    : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan,M.Sc.

Session 1

……………………………………………………………………………………………

 

The Benefit of Studying Consumer Behavior

(Manfaat Mempelajari Perilaku Konsumen )

Written by : Afina Mutmainnah

Major        : Family and Consumer Sciences- College of Human Ecology

 

Ada beberapa manfaat yang didapat dari mata kuliah ini, terutama bila ditinjau dari perspektif konsumen dan produsen. Sebagai konsumen, kita akan mengetahui apa saja hal-hal yang dapat mempengaruhi keputusan kita terhadap suatu produk. Sedangkan bagi produsen/pemasar, pengetahuan mengenai konsumen tersebut akan sangat membantu proses pemasaran produknya.

 

Hal menarik yang ada dalam bab pertama ini adalah mengenai tingkat pemahaman produsen mengenai konsumen. Semakin produsen memahami konsumen, semakin kuat posisi produsen dalam tawar menawar. Selain itu, kegiatan pemasaran adalah salah satu  dari tiga faktor utama yang mempengaruhi keputusan konsumen. Dua faktor penting lainnya adalah faktor perbedaan individu konsumen serta faktor lingkungan konsumen.

 

 

 

 

 

posted under Academic | No Comments »

the profound story

September17

Amazing Life

Apa yang terpikir dalam benak kita jika mendengar kata tuna-rungu? Pasti yang pertama adalah bagian dari cacat yang tak bisa mendengar dan membuat sulit untuk berbicara. Ya,memang begitu lah fakta dari profound atau yang kita kenal dengan tuna-rungu. Dan terpikirkah oleh kita nasib mereka yang tak seberuntung kita? dengan segala keterbatasan indera mereka ,bagaimana mereka menjalani hidup yang keras ini? Bila sebagian dari mereka belajar berkomunikasi dengan orang lain dengan bahas isyarat yang sulit dipelajari oleh orang normal lainnya. Adalah Audi Zarkasyi, lelaki yang divonis tuna-rungu 90-100 dB sejak berumur 1 tahun. Itu berarti tuna rungu berat. Ibu yang melahirkannya,Srihadi Zarkasyi merasa frustrasi. Entah apa yang dirasakannya. Sedih mendalam dan juga sangat bingung melandanya. Setelah berkonsultasi dengan  banyak dokter THT, sang ibu memutuskan mendidik anaknya dengan gaya hidup orang “normal” lainnya yang menggunakan bahas verbal. Ibu dan keluarganya tetap menganggap bahwa Audi adalah normal. Dan memperlakukan mereka dengan normal pula. Tak ada pembicaraan dengan bahasa isyarat. Semua verbal. Dan Audi diajarkan untuk membaca gerakan mulut dan mengeja perlahan agar dia bisa berbicara normal. Dukungan keluarga yang selalu sabar mengajari Audi untuk hidup dalam keadaan yang normal tanpa perbedaan sedikit pun, bantuan alat bantu dengar (ABD), dan tak lupa berdoa adalah senjata ampuh untuk melawan kekurangan Audi. Audi pun bisa bersekolah di sekolah negeri yang biasa,bisa bergaul dengan teman-temnnya dengan cara yang biasa pula meskipun Audi harus les privat agar bisa lebih jelas menangkap pelajaran yang disampaikan di sekolahnya. Audi pantang menyerah. Setelah apa yang dikaruniakan Tuhan kepadanya dan kasih sayang dari keluarganya membuat Audi semakin kuat menjalani hidup. Dan saat buku tentang Audi ditulis, Audi berumur 27 tahun dalam keadaan hidup sukses. Audi lulus kuliah dengan baik dan kini sedang menjalankan usaha perkebunan tehnya di kawasan Lembang Bandung dan dalam waktu dekat akan menikah dengan seorang gadis yang sempurna. Begitulah hidup. Ketika kita ingin bertahan, Tuhan akan selalu menyediakan jalan menuju kebaikan. Tak ada yang harus disesali dengan apa yang kita punyai, tapi jadikanlah itu sebagai sesuatu yang sangat berarti.

Summarized from AUDI

by: Afina M/I24100044

( IKK 47)

posted under Academic | No Comments »

majorkuuu…

July23

the unique of family..

posted under Academic | No Comments »
« Older Entries